Tuesday, January 25, 2011

Pikun itu disebabkan oleh apa yaa?

akhir tahun 2008 lalu, ayah terkena serangan stroke ringan, dan kaki sebelah kanannya jadi ga bisa berfungsi seprima seperti dulu sebelum kena stroke. masih bisa jalan normal, tapi jadi agak sedikit lambat. selain kaki, daya ingat ayah jg mulai menurun (lebih sering disebut pikun) karena kata dokter ada sedikit sumbatan di otaknya yang mengakibatkan daya ingat sedikit terganggu. (ini hanya penjelasan dr yang awan tentang penyakit, hehehee). selama 6 bulan pertama pasca stroke ringan, selain terapi fisik untuk menormalkan fungsi kakinya, ayah juga banyak mengkonsumsi obat-obatan seperti obat pengencer darah, vitamin daya ingat, obat penurun tekanan darah, dan obat tidur (kalo obat yang satu ini, gw sampe perang tiap malem sewaktu ayah mau minum, tapi alhamdulillah udah 1 tahun belakangn ini, ayah udah ga tergantung sama obat tidur). 

kadang kasian juga sih ngeliat ayah kaya gitu. sekarang kalo lagi diajak ngobrol ga terlalu fokus, trus kalo ditanya  lagi tentang apa yg diobrolin, ayah terlalu sering bilang "ayah lupa". kemudian suka mengulang pertanyaan yang  sama dalam kurun waktu yang ga lama, misalnya nanya tentang A, ntar 15 menit kemudian ditanya lagi tentang A itu. sempet kepikiran apa ayah cenderung punya gejala alzheimer (moga2 jangan sampe) atau memang hanya sebatas pikun aja. nah ini beberapa hasil artikel yang gw temuin mengenai pikun dan alzheimer:



Ada berbagai faktor penyebab kepikunan (demensia) diantaranya obat-obatan (drugs) seperti obat jantung, obat tidur (penenang), obat-obat insektisida, obat penurun tensi, obat aritmia, dan lain-lain. 

demensia itu ada berbagai jenis diantaranya penyakit kepikunan Al-Zheimer. Berbagai faktor penyebab kepikunan dengan singkatan dementia yaitu Drugs; Emosional disorder (depresi karena stres), Metabolik (cara kerja organ tubuh) kacau seperti hipertiroid, hipotiroid, hipoglikemik, kekurangan vitamin B12, fungsi liver dan ginjal terganggu, faktor keturunanM Eye Ear (gangguan mata dan pendengaran); Nutritional defisiensi (kekurangan nutrisi), Trauma benturan kepala, penyumbatan darah ke otak; Infeksi (herpes otak); Anemia, akohol dan arsen. 

Untuk mengetahui seseorang itu menderita penyakit Alzheimer itu harus dicek otaknya, tetapi ini punya risiko. Karena itu selama ini umumnya orang yang menderita penyakit Alzheimer didiagnosa dengan gejala-gejala yang mendekati Alzheimer antara lain: gangguan daya ingat, kesulitan dalam melakukan aktivitas sederhana/pekerjaan sehari-hari, problema berbicara./berbahasa, disorientasi (gangguan mengenal waktu, tempat dan mengenali lingkungan), penampilan memburuk, kesulitan dalam melakukan penghitungan sederhana, salah atau lupa meletakkan benda, curia seseorang telah mencurinya, perubahan perasaan atau perilaku (keluar rumah malam hari, menjadi agresif), perubahan kepribadian, hilangnya minat dan inisiatif.

Alzheimer ini kerjanya pelan, tetapi pasti dan biasanya berkaitan dengan waktu/usia. Resiko terserang penyakit Alzheimer diperkirakan satu persen pada orang yang berusia 60-64 tahun dan 25 persen pada orang berusia 85-93 tahun. Ditemukan lebih banyak pada perempuan dibanding pria, karena usia perempuan lebih panjang. Perbandingan jumlah penderita Alzheimer antara perempuan dan laki-laki adalah 3:1 

Penyakit Alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia yang paling sering ditemukan di klinik. Demensia adalah gejala kerusakan otak yang mengganggu kemampuan seseorang untuk berpikir, daya ingat, dan fungsi berbahasa. Hal tersebut membuat pasien demensia kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Nama penyakit Alzheimer berasal dari nama Dr. Alois Alzheimer, dokter berkebangsaan Jerman yang pertama kali menemukan penyakit ini pada tahun 1906. Dr. Alzheimer memperhatikan adanya perubahan jaringan otak pada wanita yang meninggal akibat gangguan mental yang belum pernah ditemui sebelumnya. Pada jaringan otak tersebut ditemukan lapisan atau plaque dan serabut saraf yang tidak normal.

Penyakit Alzheimer paling sering ditemukan pada orang tua berusia sekitar 65 tahun ke atas. Di negara maju seperti Amerika Serikat saat ini ditemukan lebih dari 4 juta orang usia lanjut penderita penyakit Alzheimer. Angka ini diperkirakan akan meningkat sampai hampir 4 kali di tahun 2050. Hal tersebut berkaitan dengan lebih tingginya harapan hidup pada masyarakat di negara maju, sehingga populasi penduduk lanjut usia juga bertambah.

Demensia Alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia akibat degenerasi otak yang tersering ditemukan dan paling ditakuti. Demensia yang disebabkan oleh Alzheimer, biasanya diderita oleh pasien usia lanjut dan merupakan penyakit yang tidak hanya menggerogoti daya pikir dan kemampuan aktivitas bagi penderitanya, namun juga menimbulkan beban bagi keluarga yang merawatnya.
Demensia Alzheimer dikategorikan sebagai penyakit degeneratif otak yang progresif yang mematikan sel-sel otak sehingga mengakibatkan menurunnya daya ingat, kemampuan berpikir dan perubahan perilaku. Mengingat beban yang ditimbulkan penyakit ini, masyarakat perlu mewaspadai gangguan perilaku dan psikologik penderita demensia Alzheimer. 

 Berikut ini ada beberapa gejala penyakit Alzheimer yang perlu diwaspadai. Namun bila seseorang mengalami gejala tersebut bukan berarti ia pasti menderita Alzheimer. Untuk menentukan dengan pasti, perlu pemeriksaan oleh dokter secara khusus, misalnya dengan beberapa tes wawancara maupun tertulis.

Gejala Penyakit Alzheimer yang perlu diwaspadai adalah sebagai berikut:
  1. Mengajukan pertanyaan yang sama pada satu saat berulang-ulang atau mengulangi cerita yang sama, dengan kata-kata yang sama terus-menerus.
  2. Lupa cara untuk melakukan kegiatan rutin. Misalnya lupa cara memasak, cara menelepon dsb.
  3. Gangguan berbahasa. Misalnya mengalami kesulitan untuk menemukan kata yang tepat. Bila gejala tersebut berlanjut maka kemampuan untuk berbicara dan menulis juga terganggu.
  4. Disorientasi. Misalnya lupa saat itu hari apa, bulan apa, saat itu ada di mana atau tidak tahu arah. Hal tersebut menjadi sebab mengapa pasien lansia sering tersesat karena lupa jalan pulang atau bahkan pergi dari rumah karena merasa ia berada di tempat yang asing.
  5. Gangguan berpikir secara abstrak. Misalnya kesulitan untuk menghitung uang.
  6. Gangguan kepribadian. Misalnya menjadi mudah tersinggung, mudah marah dan mudah curiga. Dokter seringkali mendengar keluarga mengeluh bahwa pasien menuduh ada yang mengambil barang miliknya atau bahkan menuduh pasangannya sudah tidak setia lagi kepadanya.
Gangguan untuk membuat keputusan sehingga menjadi tergantung pada pasangannya.

GEJALA
  • Demensia biasanya dimulai secara perlahan dan makin lama makin parah, sehingga keadaan ini pada mulanya tidak disadari.
  • Terjadi penurunan dalam ingatan, kemampuan untuk mengingat waktu dan kemampuan untuk mengenali orang, tempat dan benda.
  • Penderita memiliki kesulitan dalam menemukan dan menggunakan kata yang tepat dan dalam pemikiran abstrak (misalnya dalam pemakaian angka).
  • Sering terjadi perubahan kepribadian.

Demensia karena penyakit Alzheimer biasanya dimulai secara samar.
Gejala awal biasanya adalah lupa akan peristiwa yang baru saja terjadi; tetapi bisa juga bermula sebagai depresi, ketakutan, kecemasan, penurunan emosi atau perubahan kepribadian lainnya.
Terjadi perubahan ringan dalam pola berbicara; penderita menggunakan kata-kata yang lebih sederhana, menggunakan kata-kata yang tidak tepat atau tidak mampu menemukan kata-kata yang tepat.
Ketidakmampuan mengartikan tanda-tanda bisa menimbulkan kesulitan dalam mengemudikan kendaraan.
Pada akhirnya penderita tidak dapat menjalankan fungsi sosialnya.

Demensia karena stroke kecil memiliki perjalanan penyakit dengan pola seperti menuruni tangga.
Gejalanya memburuk secara tiba-tiba, kemudian agak membaik dan selanjutnya akan memburuk kembali ketika stroke yang berikutnya terjadi.
Mengendalikan tekanan darah tinggi dan kencing manis kadang dapat mencegah stroke berikutnya dan kadang terjadi penyembuhan ringan.

Beberapa penderita bisa menyembunyikan kekurangan mereka dengan baik.
Mereka menghindari aktivitas yang rumit (misalnya membaca atau bekerja).
Penderita yang tidak berhasil merubah hidupnya bisa mengalami frustasi karena ketidakmampuannya melakukan tugas sehari-hari.
Penderita lupa untuk melakukan tugasnya yang penting atau salah dalam melakukan tugasnya.

penjelasan diatas lebih cenderung berlaku untuk orang tua, tapi para kaum muda jaman sekarang pun sudah menunujukkan gejala pikun. tapiiiii, banyak cara untuk mengatasi si pikun biar ga lama-lama mendem di otak kita. pasti pada ga mau doong pada pikun mendadak, hehehee.
 

No comments:

Post a Comment